Rabu, 08 November 2017

Skripsi (Bab 1-3)







KAJIAN DAYA HAMBAT EKSTRAK KULIT DAN JANTUNG PISANG MULI (Musa acuminata) SEBAGAI ANTIMIKROBA ALAMI DALAM MENURUNKAN CEMARAN Echerichia coli PADA DAGING AYAM (Gallus domesticus)


(Skripsi)






Oleh

SUCI NATA KUSUMA












FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2017







I.                   PENDAHULUAN




1.1  Latar Belakang

Daging ayam merupakan salah satu bahan pangan yang memegang peranan penting sebagai sumber protein hewani dalam pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat. Permintaan daging ayam berkembang pesat seiring tingginya tingkat konsumsi daging ayam oleh masyarakat. Hal ini didukung dengan data produksi daging ayam tahun 2015 sebesar 2,04 juta ton atau meningkat 5,11% dibandingkan tahun 2014, dan rata-rata konsumsi per kapita daging ayam masyarakat Indonesia tahun 2011-2015 sebesar 4,28 kg/kapita/tahun (Nuryati et al., 2015). Adanya peningkatan permintaan daging ayam berdampak pada kasus penyebaran penyakit yang berasal dari pangan asal hewan ke manusia atau foodborne disease (Dewantoro, 2011).
                                           
Daging ayam merupakan media yang baik untuk perkembangan bakteri. Bakteri dikatakan bersifat patogen jika bakteri dapat menimbulkan berbagai penyakit dan menyebabkan daging cepat busuk (Lukman et al., 2009). Beberapa mikroba penyebab penyakit yang berasal dari daging ayam (foodborne disease), antara lain: Escherichia coli, Salmonella, Staphylococcus aureus, Camphylobacter sp., dan Clostridium botulinum (Dewantoro, 2011). Menurut Djaafar dan Rahayu (2007), Escherichia coli merupakan kelompok mikroba pembusuk yang dapat mengubah makanan segar menjadi busuk bahkan dapat menghasilkan toksin. Bakteri Escherichia coli patogen dapat menghasilkan enterotoksin yang menyebabkan beberapa kasus diare (Jawetz et al., 1995).

Mutu daging ayam dapat diuji dari segi biologi untuk melihat tingkat cemaran bakteri Echerichia coli karena bakteri E. coli digunakan sebagai indikator sanitasi suatu produk olahan yang berasal dari daging maupun minuman (Sasmita et al., 2014). Berdasarkan SNI 392  4.1:2009 tentang mutu daging ayam, batas cemaran E.coli untuk pangan adalah   1 x 101 koloni/gram. Hasil penelitian Marliena (2016) menunjukkan bahwa  cemaran E.coli pada daging ayam di pasar tradisional dan pasar modern di Kota Bandar Lampung tidak memenuhi SNI karena diatas batas cemaran E.coli pada  pangan yaitu 1 x 102 koloni/gram. Menurut Jay et al. (2005), banyaknya kejadian kontaminasi bakteri E.coli pada daging ayam terjadi pada saat pemotongan, pengepakan, pendistribusian dan pengolahan produk asal hewan. Kontaminasi juga dapat terjadi akibat sanitasi yang kurang baik di peternakan, tempat pemotongan maupun tempat pengolahan daging ayam (Dewantoro, 2011). Bakteri E.coli yang mengontaminasi daging ayam perlu dicegah guna menurunkan jumlah cemaran bakteri patogen.

Untuk menekan pertumbuhan bakteri, daging ayam umumnya disimpan dengan cara pendinginan, pembekuan, proses termal (pemanasan), dehidrasi (pengeringan), atau dengan pengawetan menggunakan bahan-bahan pengawet seperti garam, gula, asam, dan berbagai pengawet sintetis atau pengawet kimia (Usmiati, 2010). Kecurangan oleh pedagang dipasaran yang sering terjadi adalah penggunaan bahan pengawet berbahaya seperti formalin dan boraks yang cenderung toksik. Bahan pengawet sintetis maupun bahan kimia yang cenderung toksik tidak direkomendasikan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) karena diduga dapat menimbulkan penyakit kanker (carcinogen agent) (Windiyartono et al., 2016). Oleh karena itu bahan pengawet alami lebih disarankan. Bahan-bahan pengawet alami termasuk di antaranya berasal dari tumbuh-tumbuhan.

Tanaman pisang merupakan salah satu jenis tanaman yang diketahui dapat digunakan sebagai antibakteri karena mampu menghambat aktivitas mikroba. Saraswati (2015) melaporkan bahwa tanaman pisang memiliki banyak kandungan senyawa aktif (metabolit sekunder) yang berperan sebagai senyawa antimikroba diantaranya saponin, tanin, alkaloid, flavonoid, dan fenol. Hasil penelitian Chandra et al., (2010) menunjukkan bahwa bagian kulit buah pisang ambon (Musa sapientum) yang diekstrak dengan kloroform dan etil asetat terbukti memiliki aktivitas antimikroba terhadap bakteri Sthapylococus aureus, Bacillus subtilis, Bacillus cereus, Salmonella enteritidis, dan Escherechia coli. Kemudian hasil penelitian Ningsih et al., (2013) menunjukkan bahwa ekstrak jantung pisang kepok kuning (Musa paradisiaca Linn.) mampu bekerja sebagai antibakteri terhadap S. aureus dan E. coli. Informasi penggunaan bagian kulit buah dan jantung pisang muli (Musa acuminata) sebagai antimikroba masih sangat jarang ditemukan. Oleh sebab itu, diperlukan penelitian untuk mengetahui pemanfaatan bagian kulit pisang dan jantung pisang muli sebagai antimikroba guna menurunkan cemaran E.coli yang mengontaminasi daging ayam.


1.2  Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini yaitu:
1.      Mengetahui adanya daya hambat ekstrak kulit dan jantung pisang muli sebagai antimikroba alami dalam menurunkan cemaran Echerichia coli.
2.      Menentukan konsentrasi terbaik ekstrak kulit dan jantung pisang muli sebagai antimikroba alami untuk menurunkan cemaran Echerichia coli.
3.      Mengetahui pengaruh penggunaan ekstrak kulit dan jantung pisang muli sebagai antimikroba alami dalam penurunan cemaran Echerichia coli pada daging ayam.

1.3    Kerangka Pemikiran

Bakteri Escherichia coli yang mencemari daging ayam umumnya berasal dari ruangan, peralatan maupun meja tempat pemotongan ayam, serta air yang digunakan selama proses pemotongan hingga pengolahan daging ayam. Pertumbuhan mikroba pada produk pangan dapat terjadi dalam waktu singkat dan pada kondisi yang sesuai, seperti tersedianya nutrisi, pH, suhu, dan kadar air bahan pangan. Bakteri E. coli dapat tumbuh dengan baik di dalam lemak dan protein yang merupakan sumber nutrisi bagi mikroba. Daging ayam memiliki kandungan lemak dan protein yang tinggi, sehingga daging ayam dapat menjadi media pertumbuhan yang baik untuk E. coli (Rahardjo dan Santosa, 2005). Cemaran bakteri Escherichia coli pada daging ayam perlu diturunkan yaitu salah satunya dengan penggunaan antimikroba alami.
Penelitian-penelitian mengenai tanaman pisang menunjukkan bahwa beberapa bagian tanaman pisang memiliki banyak kandungan senyawa aktif (metabolit sekunder) yang berperan sebagai senyawa antimikroba. Pada organ jantung pisang mengandung alkaloid, saponin, tanin, flavonoid dan total fenol (Mahmood et al., 2011). Kulit buah pisang memiliki kandungan non-nutrisi, termasuk polifenol, flavonoid (Lee et al., 2010). Adanya zat antibakteri yang terkandung akan menghalangi pengangkutan atau terbentuknya masing-masing komponen ke dinding sel yang dapat berakibat melemahnya struktur yang disertai dengan dinding sel yang menghilang dan isi sel yang terlepas sehingga akan menghambat pertumbuhan atau mematikan sel bakteri tersebut. Senyawa saponin akan membentuk senyawa kompleks dengan membran sel melalui ikatan hidrogen, sehingga sifat permeabilitas dinding sel dapat dihancurkan dan menimbulkan kematian sel (Priosoeryanto, 2006).

Kulit buah pisang memiliki kadar senyawa fenolik yang jauh lebih tinggi daripada yang terkandung pada daging buahnya (Humairani, 2007). Polifenol merupakan sumber potensial antioksidan dan antimikroba terhadap sejumlah besar bakteri patogen (Karou et al., 2005). Penelitian yang dilakukan Karadi et al., (2011) menunjukkan bahwa kulit buah pisang memiliki aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Bacillus subtilis, dan Pseudomonas aeruginosa pada uji zona hambat dengan metode disk diffusion. Menurut Okorondu et al. (2010), diketahui bahwa aktivitas antibakteri kulit pisang kepok (Musa paradisiaca) menunjukkan pada uji zona hambat (zone of inhibition test) ekstrak kulit pisang dapat menghambat beberapa bakteri pathogen, seperti Escherichia coli, Pseudomnas aeruginosa, Staphylococcus aureus dan Salmonella typhi. Aktivitas antibakteri paling tinggi didapatkan dari ekstrak metanol, kemudian diikuti ekstrak etanol dan kloroform, namun ekstrak air tidak menunjukkan hambatan pada organisme yang diuji (Okorondu et al., 2010). Ekstrak etanol 96% limbah kulit pisang kepok (Musa balbisiana) memiliki sensitifitas yang tinggi terhadap bakteri Propionibacterium acne, dengan menghasilkan diameter zona hambat sebesar 8,4 mm pada konsentrasi 25.000 ppm (Saraswati, 2015).

Menurut penelitian Ningsih et al. (2013), ekstrak jantung pisang kepok kuning (Musa paradisiaca Linn.) mampu bekerja sebagai antibakteri terhadap S. aureus dan E. coli dengan rata-rata diameter zona hambat masing-masing 7,9 mm dan 11,4 mm. Penelitian lain yang dilakukan oleh Sumathy et al., (2011) menunjukkan bahwa jantung pisang memiliki potensi sebagai antibakteri dalam menghambat pertumbuhan bakteri S.aureus dan E.coli dengan diameter zona hambat berturut-turut sebesar 22 mm dan 12 mm pada konsentrasi 100 mg/ml. Berdasarkan penelitian Babu et al., (2012) diketahui bahwa kandungan senyawa antimikroba seperti fenol, polifenol dan alkaloid yang terdapat pada beberapa varietas tanaman pisang ternyata tidak jauh berbeda. Penghambatan yang ditunjukkan oleh kulit pisang dan pisang kepok kuning (Musa paradisiacal) terhadap beberapa bakteri patogen salah satunya E.coli membuat adanya dugaan bahwa kulit pisang dan jantung pisang muli (Musa acuminata) dapat digunakan untuk menghambat cemaran bakteri E.coli. Berdasarkan kerangka diatas, akan dilakukan penelitian penghambatan mikroba menggunakan antimikroba alami dari kulit buah dan jantung pisang muli (Musa acuminata) dengan konsnetrasi yang berbeda.
1.4    Hipotesis

Hipotesis yang diajukan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Esktrak kulit dan jantung pisang muli memiliki daya hambat sebagai antimikroba alami dalam menurunkan cemaran Escherichia coli.
2.      Terdapat konsentrasi terbaik ekstrak kulit dan jantung pisang muli sebagai antimikroba alami untuk menurunkan cemaran Escherichia coli.
3.      Esktrak kulit dan jantung pisang muli sebagai antimikroba alami berpengaruh terhadap penurunan cemaran Escherichia coli pada daging ayam.

























II.                TINJAUAN PUSTAKA




2.1 Daging Ayam

2.1.1          Karakteristik Daging Ayam
Ayam (Gallus domesticus) memiliki beberapa klasifikasi, diantaranya adalah ayam ras (ayam negeri), ayam kampung dan ayam hutan. Ayam kampung menghasilkan daging yang lebih enak daripada ayam negeri. Hal ini karena kemampuan genetis yang membedakan antara kedua jenis ayam ini (Rashaf, 2000). Kedudukan ayam dalam sistematika (taksonomi) hewan dapat dikelompokkan sebagai berikut (Suprijatna et al., 2005) :
Filum               : Chordata
Sub filum        : Vertebrata
Kelas               : Aves
Sub kelas         : Neornithes
Ordo                : Galliformes
Genus              : Gallus
Spesies            : Gallus domesticus
Daging secara umum didefinisikan sebagai semua jaringan hewan yang dikonsumsi namun tidak menimbulkan gangguan kesehatan bagi yang mengkonsumsinya (Soeparno, 1994). Daging ayam adalah produk dari peternakan unggas yang sangat penting untuk pemenuhan kebutuhan pangan. Permintaan konsumen terhadap daging ayam dan juga produk olahan semakin tinggi karena harganya yang terjangkau, kandungan lemak yang rendah, serta tidak membutuhkan waktu yang panjang untuk pengolahannya. Menurut BSN (2009) dalam SNI 3924:2009, daging ayam adalah otot skeletal dari karkas ayam yang aman, layak, dan lazim dikonsumsi manusia. Karkas ayam adalah bobot tubuh ayam setelah dipotong dikurangi kepala, kaki, darah, bulu serta organ dalam. Persentase bagian yang dipisahkan sebelum menjadi karkas adalah hati dan jantung 1.50%, tembolok 1.50%, paru-paru 0.90%, usus 8%, leher atau kepala 5.60%, darah 3.50%, kaki 3.90%, bulu 6%, karkas 60.10%, serta air 9%. Bobot karkas yang telah dipisahkan dari bulu, kaki, leher atau kepala, organ dalam, ekor (kelenjar minyak), yaitu sekitar 75% dari bobot hidup ayam (Abubakar, 2003).
Kualifikasi karkas ayam didasarkan atas tingkat keempukan dagingnya. Ayam berdaging empuk, yaitu ayam yang daging karkasnya lunak, lentur, dan kulitnya bertekstur halus. Ayam dengan keempukan daging keras umumnya mempunyai umur yang relatif tua dan kulitnya kasar. Kelas ini meliputi stag, ayam jantan berumur kurang dari 10 bulan (Soeparno, 1994). Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) 01-3924-2009 tentang Mutu Karkas dan Daging Ayam, kualitas karkas yang baik (mutu I) adalah yang konformasinya sempurna, perdagingan tebal, perlemakan banyak, keutuhan cukup baik dan sempurna, serta bebas dari memar dan bulu jarum. Karkas dibedakan menjadi tiga, yaitu karkas segar, karkas segar dingin, dan karkas beku. Karkas segar adalah karkas yang diperoleh tidak lebih dari 4 jam setelah proses pemotongan dan tidak mengalami perlakuan lebih lanjut. Karkas segar dingin adalah karkas segar yang didinginkan setelah proses pemotongan sehingga temperatur bagian dalam daging (internal temperature) antara 0 °C dan 4 °C. Karkas beku adalah karkas segar yang telah mengalami proses pembekuan di dalam blast freezer dengan temperatur bagian dalam daging minimum -12 °C.
Daging ayam merupakan bahan makanan yang mengandung gizi tinggi, memiliki rasa dan aroma yang enak, tekstur yang lunak, serta harga yang relative murah. Berdasarkan alasan tersebut, daging ayam lebih banyak diminati oleh masyarakat jika dibandingkan dengan daging sapi. Struktur daging ayam sama halnya seperti daging hewan lainnya, sangat kompleks dan sangat luas. Lemak pada daging ayam banyak ditemukan di bawah kulit. Kandungan asam lemak tidak jenuhnya juga lebih besar daripada daging hewan lainnya. Komposisi daging ayam memiliki protein yang sangat tinggi khususnya bagian dada yaitu 23.3%, kandungan air 74.4%, lemak 1.2%, dan abu sebesar 1.1%. Nilai pH juga berpengaruh pada kualitas daging ayam, yaitu terhadap warna, keempukan, dan daya ikat air. Nilai pH daging ayam setelah 24 jam (pasca mati) adalah 5.5-5.9 (Lukman et al., 2009).
Daging ayam tidak boleh berada dalam suhu ruang (25°) lebih dari 3 jam karena daging ayam mengandung kadar air dan protein yang sangat tinggi sehingga dapat menjadi media yang baik untuk pertumbuhan bakteri. Daging yang segar dapat disimpan dalam kulkas. Menurut Departemen Kesehatan RI (1996), ayam segar yang biasa digunakan untuk pengolahan terdiri dari tiga, yaitu:
- ayam segar biasa (segera dimasak, hanya tahan 4 - 6 jam setelah dipotong)
- ayam segar dingin (tahan 24 jam, dimasukkan dalam lemari es)
- ayam segar beku (tahan untuk beberapa hari jika disimpan dalam kondisi yang tepat, 24°C dibawah nol.

Daging ayam yang akan dikonsumsi haruslah memiliki kondisi yang baik. Ciri-ciri daging ayam segar untuk dikonsumsi manusia antara lain :
1.        Daging ayam yang segar baunya khas aroma daging ayam, tidak anyir, amis dan tidak bau bangkai sedangkan daging ayam yang tidak segar baunya anyir. Daging ayam yang diberi bahan kimia pengawet berbahaya biasanya tidak ada baunya (tidak ada bau khas daging ayam segar).
2.        Daging ayam yang segar memiliki penampilan warna kulit putih mengkilat tanpa memar dan bersih dari bulu jarum dan bulu halus. Ayam yang tidak segar terlihat pada kulitnya ada bercak-bercak merah yang lama-lama bisa berubah jadi kebiruan serta ada bekas bulu-bulu jarum dan halus yang tersisa di kulit ayam.
3.        Daging ayam segar pada bagian kepala dan leher tidak terlihat pembuluh darah di tubuhnya, tidak mengeluarkan darah lagi dan bekas sembelih di leher besar, tidak rata potongannya dan terlihat pucat. Sedangkan ayam yang kurang segar terlihat mengeluarkan darah dari bagian kepala atau leher, bekas potongan sembelih bentuknya kecil dan rata, serta terlihat darah di pembuluh darah leher ayam.
4.        Secara umum ayam yang masih segar terlihat bersih dari kotoran dan secara fisik terlihat sempurna tidak cacat bentuk tubuh ayamnya. Sedangkan ayam yang tidak segar terlihat serabut otot yang kemerah-merahan, biru atau hitam. Selain itu warna bagian dalam karkas atau daging ayam berwarna merah serta otot pada dada dan paha ayam terasa lembek jika ditekan dengan jari.
2.1.2          Aspek Mikrobiologis Daging Ayam

Peran mikroorganisme dalam pangan dapat bersifat menguntungkan maupun merugikan. Mikroorganisme yang menguntungkan berperan sebagai mikroorganisme fermentatif pada makanan. Mikroorganisme yang merugikan berperan sebagai penyebab penyakit melalui pangan ke manusia atau yang disebut foodborne disease. Mikroorganisme yang mengkontaminasi bahan pangan dapat menyebabkan kerusakan bahan pangan tersebut. Kerusakan daging ayam secara biologis banyak diakibatkan oleh adanya pertumbuhan mikroorganisme yang berasal dari ternak, pencemaran dari lingkungan baik pada saat proses pemotongan, penyimpanan, maupun pemasaran. Pertumbuhan dan aktivitas mikroorganisme dipengaruhi oleh faktor suhu penyimpanan, waktu, tersedianya oksigen, dan kadar air pada daging (Rahardjo dan Santoso, 2005).

Kualitas daging ayam dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik pada waktu hewan masih hidup maupun setelah dipotong. Pada waktu hewan hidup faktor penentu kualitas daging adalah cara pemeliharaan, meliputi pemberian pakan, tata laksana pemeliharaan, dan perawatan kesehatan, sedangkan setelah hewan dipotong kualitas daging dipengaruhi oleh perdarahan pada waktu hewan dipotong dan kontaminasi mikroba (Murtidjo, 2003). Daging ayam harus memenuhi kualitas mikrobiologis yang telah ditetapkan oleh SNI 7388 (2009) dengan ambang batas cemaran total mikroba maksimal 106 CFU/g.

Kontaminasi awal bakteri pada daging ayam diakibatkan dari mikroorganisme yang masuk ke pembuluh darah bila pisau yang digunakan untuk penyembelihan tidak steril. Kontaminasi pada permukaan daging ayam dapat terjadi selama penyembelihan, pemrosesan, penyimpanan, dan distribusi atau pengangkutan daging. Menurut Jay et al. (2005), banyaknya kejadian kontaminasi bakteri pada daging ayam terjadi pada saat pemotongan, pengepakan, pendistribusian dan pengolahan produk asal hewan. Kontaminasi juga dapat terjadi akibat sanitasi yang kurang baik di peternakan, tempat pemotongan maupun tempat pengolahan daging ayam. Pemakaian air dari sanitasi yang kurang baik dalam proses pemotongan, pengolahan, dan penyimpanan dapat meningkatkan jumlah cemaran mikroba di dalam daging ayam.

Pada umumnya sanitasi yang terdapat di rumah-rumah potong belum memenuhi persyaratan kesehatan daging sesuai standar yang telah ditetapkan. Keadaan ini menyebabkan mikroorganisme awal pada daging sudah tinggi. Selain itu penyimpanan daging di rumah potong dan di pasar-pasar umumnya belum menggunakan alat pendingin, di mana daging hanya dibiarkan terbuka tanpa dikemas dalam temperatur kamar. Kondisi yang demikian dapat menyebabkan perkembangbiakan mikroorganisme semakin meningkat yang mengakibatkan kerusakan atau pembusukan daging dalam waktu singkat (Susanto, 2014).

Mikroba penyebab pembusukan daging unggas yang disimpan pada lemari es untuk karkas unggas antara lain: Pseudomonas fluorescens, Pseudomonas putida, Acinetobacter, dan Moraxella (Lukman, 2010). Mikroba patogen yang biasanya mencemari daging antara lain: E. Coli, Salmonella sp. dan Stahpylococcus sp. yang merupakan kontaminan utama pada daging sapi dan unggas segar (Usmiati, 2010).  Persyaratan mutu batas maksimum cemaran mikroba pada daging ayam menurut SNI 01-7388-2009 disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Spesifikasi persyaratan mutu batas maksimum cemaran mikroba pada
daging ayam
Jenis Cemaran Mikroba
Batas Maksimum Cemaran Mikroba (cfu/g)
Daging Ayam Segar/ Beku
Daging Ayam Tanpa Tulang
a.       Jumlah total kuman (Total Plate Count)
1x106
1x106
b.      Coliform
1x102
1x102
c.       Echerichia coli
1x101
1x101
d.      Enterococci
1x102
1x102
e.       Staphylococcus aureus
1x102
1x102
f.       Clostridium sp.
0
0
g.      Salmonella sp.
0
0
h.      Camphylobacter sp.
0
0
i.        Listeria sp.
0
0
Sumber: SNI 01-7388-2009

2.2  Escherichia coli

Escherichia coli merupakan mikroba yang termasuk dalam kelompok Enterobacteriaceae. Karakteristik bakteri ini adalah batang pendek (0.5-1.0x1.0-3.0 µm), motil (adanya flagela yang merata di seluruh permukaan sel), bersifat Gram negatif, anaerobik fakultatif, oksidase negatif, katalase positif, tidak membentuk spora, dan dapat memfermentasikan glukosa (Pelczar dan Chan, 2007). Escherichia coli merupakan bakteri Gram negatif yang dapat tumbuh dengan baik pada makanan. E. coli dapat tumbuh pada suhu rendah (-2 °C) dan suhu tinggi (50 °C). Bakteri ini tumbuh sangat lambat di dalam makanan pada suhu 5 °C. Namun, ada laporan yang menyatakan bahwa bakteri ini dapat tumbuh dengan baik pada suhu 3-6 °C. E. coli juga dapat tumbuh dengan baik pada media yang mengandung karbon organik (glukosa), sumber nitrogen (NH4)2SO4, dan mineral lainnya. Bakteri ini dapat ditumbuhkan atau dikultur pada media nutrient agar. Dalam waktu 12-16 jam dengan suhu 37 °C, bakteri ini dapat membentuk koloni pada nutrient agar (Jay et al., 2005).

Escherichia coli merupakan mikroorganisme indikator yang paling spesifik untuk menilai cemaran fekal dan merupakan golongan Coliform yang paling sering ditemukan pada karkas unggas (Mead, 2003). Bakteri Escherichia coli pada daging ayam dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu patogen dan non-patogen. Golongan non-patogen dapat menyebabkan pembusukan pada pangan asal hewan, sedangkan golongan pathogen dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Toksin dari E. coli patogen yang dapat dijumpai pada daging ayam adalah verocytotoxin E. coli (VTEC), yang dapat menyebabkan diare dan hemorrhagic colitis dan kadang-kadang menyebabkan hemolytic uremic syndrome (HUS) pada manusia. Salah satu VTEC penyebab wabah penyakit yang ditularkan melalui makanan yang utama adalah serogrup O157:H7 (Cox, 2005). Gambar bakteri Echerichia coli dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Bentuk bakteri Echerichia coli pada mikroskop elektron
 Sumber: Stevens (2009), dalam Marliena (2016).
Bakteri Echerichia coli dapat tumbuh pada suhu optimum 37°C, dengan nilai pH maksimum 8,5. Bakteri E. coli merupakan bakteri yang relatif sensitif terhadap panas sehingga akan mati atau inaktif pada suhu pasteurisasi atau selama pemasakan makanan (Maloha, 2002). Bakteri ini memiliki tiga antigen diantaranya adalah antigen O (somatik), antigen H (flagella), dan antigen K (kapsula) (Winn et al., 2006). Menurut Ismail (2011), E.coli memiliki sifat biokimia, dimana kuman ini mampu meragikan glukosa, laktosa, sukrosa, manitol, dan maltosa dengan membentuk asam dan gas sehingga pada media Mac Conkey, dan media eosine methylene blue koloni yang terbentuk berwarna merah muda sampai merah tua dengan kilatan logam yang spesifik, dan menampilkan permukaan yang halus. Pada uji indol dan methyl red bakteri ini menunujukan hasil positif sedangkan pada uji voges proskauer menunjukan hasil negatif. Bakteri ini tidak menghidrolisa urea dan tidak membentuk H2S (Maloha, 2002).

Eschericchia coli terdapat secara normal dalam alat-alat pencernaan manusia dan hewan. Bakteri E. coli merupakan bakteri yang bersifat fakultatif anaerob dan memiliki tipe metabolisme fermentasi dan respirasi tetapi pertumbuhannya paling banyak di bawah keadaan anaerob, namun beberapa E. coli juga dapat tumbuh dengan baik pada suasana aerob. Suhu yang baik untuk menumbuhkan E. coli yaitu pada suhu optimal 37°C pada media yang mengandung 1% peptone sebagai sumber nitrogen dan karbon (Melliawati, 2009).

Bakteri  E. coli  biasanya berada di dapur dan tempat-tempat persiapan bahan pangan melalui bahan baku dan selanjutnya masuk ke makanan yang telah dimasak melalui tangan, permukaan alat-alat dan peralatan lain. Bakteri E. coli dalam beberapa jam setelah kelahirannya dapat membentuk koloni pada saluran pencernaan manusia maupun hewan. Masa inkubasi adalah 1-3 hari dan gejala-gejalanya menyerupai gejala-gejala keracuanan bahan pangan yang tercemar oleh Salmonella atau disentri (Buckle et al., 2007). Faktor utama pembentukan koloni ini ialah mikroflora dalam tubuh masih sedikit, rendahnya kekebalan tubuh, faktor stres, pakan, dan infeksi agen patogen lain. Kebanyakan E. coli memiliki virulensi atau kemampuan untuk menimbulkan penyakit yang rendah dan bersifat oportunis (Songer & Post, 2005). Echerechia coli keluar dari tubuh bersama tinja dalam jumlah besar serta mampu bertahan sampai beberapa minggu. Kelangsungan hidup dan replikasi E. coli di lingkungan membentuk koliform. E.coli tidak tahan terhadap keadaan kering atau desinfektan biasa dan bakteri ini akan mati pada suhu 600 C selama 30 menit.
Berdasarkan persyaratan mikrobiologi E. coli dipilih sebagai indikator tercemarnya air atau makanan karena keberadaan bakteri E. coli dalam sumber air atau makanan merupakan indikasi terjadinya kontaminasi tinja manusia. Adanya E. coli menunjukkan suatu tanda praktek sanitasi yang tidak baik karena E. coli bisa berpindah dengan kegiatan tangan ke mulut atau dengan pemindahan pasif lewat makanan, air, susu dan produk-produk lainnya. Bahan makanan yang sering terkontaminasi oleh E. coli diantaranya ialah, daging ayam, daging sapi, daging babi selama penyembelihan, ikan dan makanan-makanan hasil laut lainnya, telur dan produk olahannya, sayuran, buah-buahan, sari buah, serta bahan minuman seperti susu dan lainnya. Bakteri ini dapat menyebabkan penyakit seperti diare, infeksi saluran kemih, pneumonia, meningitis pada bayi yang baru lahir dan infeksi luka (Karsinah et al., 1994).
Berdasarkan sifat dan karakteristik virulensinya, Escherichia coli diklasifikasikan menjadi lima kelompok (Jawetz et al., 1995) yaitu:
1.  Enteroinvasive E. coli (EIEC)
Menyebabkan penyakit yang mirip dengan shigellosis dengan menyerang sel epitel mukosa usus.
2.  Enteroagregative E. coli (EAEC)
Menyebabkan diare yang akut dan kronis (dalam jangka waktu lebih dari 14 hari) dengan cara melekat pada mukosa intestinal, menghasilkan enterotoksin dan sitotoksin, sehingga terjadi kerusakan mukosa, pengeluran sejumlah besar mukus, dan terjadi diare.
3.  Enteropathogenic E. coli (EPEC)
Merupakan penyebab penting diare pada bayi, khususnya di Negara berkembang. Bakteri ini melekat pada usus kecil. Infeksi EPEC dapat mengakibatkan diare cair yang sulit diatasi dan kronis.
4.  Enterotoxigenic E. coli (ETEC)
Beberapa strain ETEC memproduksi eksotoksin yang sifatnya labil terhadap panas (LT) dan toksin yang stabil terhadap panas (ST). Infeksi ETEC dapat mengakibatkan gejala sakit perut, kadang disertai demam, muntah, dan pada feses ditemukan darah.
5.  Enterohemorrhagic E. coli (EHEC)
Serotipe E. coli yang memproduksi verotoksin yaitu EHEC O157:H7. EHEC memproduksi toksin yang sifatnya hampir sama dengan toksin Shiga yang diproduksi oleh strain Shigella dysenteriae. Verotoksin yang dihasilkan menghancurkan dinding mukosa menyebabkan pendarahan.
2.3   Antimikroba

Antimikroba merupakan substansi (zat-zat) kimia yang berasal dari berbagai macam mikroorganisme dalam konsentrasi rendah, namun mampu menghambat pertumbuhan mikroorganisme lainnya. Antibakteri adalah obat pembasmi mikroba terutama mikroba yang merugikan manusia (Hanief, 2011).

2.3.1        Mekanisme Kerja Antimikroba

Mekanisme kerja antimikroba ada yang bersifat menghambat pertumbuhan mikroba yang dikenal dengan aktivitas bakteriostatik dan ada yang membunuh mikroba yang dikenal dengan aktivitas bakterisida. Antimikroba memiliki aktivitas tertentu dan dapat meningkat dari aktivitas bakteriostatik menjadi aktivitas bakterisida bila kadar antimikroba meningkat (Ganiswarna, 1995). Terdapat beberapa mekanisme kerja antimikroba, antara lain:

a.         Antimikroba yang mempengaruhi dinding sel
Mikroorganisme memiliki dinding sel yang merupakan struktur kaku yang terdiri dari suatu kompleks polimer mukopeptida. Dinding sel ini menjaga tekanan osmotik di dalam bakteri, sehingga mampu mencegah gangguan dalam sintesisnya. Antibiotika yang dapat menghambat reaksi dalam proses sintesis dinding sel adalah penisilin, fosfomisin, sikloserin, ristosetin, vankomisin dan basitrasin.

b.        Antimikroba yang merusak membran sel
Beberapa antibiotika mampu merusak kehidupan sel mikroorganisme. Membrane sel sebagai pembatas osmotik bagi difusi antara lingkungan luar dan dalam sel. Obat seperti polimiksin merupakan kelompok polipeptida sederhana yang sukar berdifusi dan sangat toksik.

c.          Antimikroba yang menggangu fungsi DNA
Obat antimikroba yang berfungsi untuk merusak fungsi DNA hanya beberapa saja yang dapat dipakai karena faktor toksisitasnya. Antimikroba yang bekerja sesuai dengan mekanisme tersebut adalah mitosin dan asam nalidiksat.

d.         Antimikroba yang menghambat sintesis protein
Sintesis protein pada mikroorganisme berlangsung di ribosom dengan bantuan mRNA dan tRNA. Terdapat dua hasil akhir dari proses sintesis protein, yaitu transkripsi atau sintesis asam ribonukleat yang DNA-dependent, dan translasi atau sintesis protein yang RNA-dependent. Antimikroba yang mampu menghambat sintesis protein adalah rifampisin, aminoglikosida, tetrasiklin, dan kloramfenikol.

2.3.2        Metode Uji Antimikroba


Potensi dari suatu antimikroba diperkirakan dengan membandingkan zona hambat pertumbuhan terhadap mikroorganisme yang sensitif dari hasil penghambatan suatu konsentrasi larutan uji dibandingkan dengan antibiotik. Uji antimikroba dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu metode difusi dan metode dilusi. Pada metode difusi termasuk didalamnya metode disk diffusion (tes Kirby & Baur), E-test, ditch-plate technique, cup-plate technique. Sedangkan pada metode dilusi termasuk didalamnya metode dilusi cair dan dilusi padat (Pratiwi, 2008). Pada metode difusi, dilakukan pengukuran daya hambat dari senyawa antimikroba yang terkandung dalam ekstrak. Metode difusi merupakan metode yang paling umum digunakan, diantaranya yaitu:

1.        Metode disk diffusion
Metode disk diffusion (tes Kirby & Baur) menggunakan piringan yang berisi agen antimikroba, kemudian diletakkan pada media agar yang sebelumnya telah ditanami mikroorganisme sehingga agen antimikroba dapat berdifusi pada media agar tersebut. Area jernih mengindikasikan adanya hambatan pertumbuhan mikroorganisme oleh agen antimikroba pada permukaan media agar. Dari hasil yang ditunjukan, dilakukan pengukuran menggunakan jangka sorong. Semakin besar zona hambat yang dihasilkan, semakin besar pula aktivitas suatu zat antimikroba. Klasifikasi respon hambatan pertumbuhan bakteri oleh Suryawiria (1978) dalam Pradana (2013) disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Klasifikasi Respon Hambatan Pertumbuhan Bakteri
Diameter Zona Hambat
Respon Hambatan Pertumbuhan
>20 mm
Sangat kuat
10-20 mm
Kuat
5-10 mm
Sedang
<5 mm
Lemah


2.        Metode E-test

Metode E-test  digunakan untuk mengestimasi Kadar Hambat Minimum (KHM), yaitu konsentrasi minimal suatu agen antimikroba untuk dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Pada metode ini digunakan strip plastik yang mengandung agen antimikroba dari kadar terendah sampai tertinggi dan diletakkan pada permukaan media agar yang telah ditanami mikroorganisme sebelumnya. Pengamatan dilakukan pada area jernih yang ditimbulkan yang menunjukan kadar agen antimikroba yang menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada media agar.

3.        Ditch-plate technique.
Pada metode ini sampel uji berupa agen antimikroba yang diletakka pada parit yang dibuat dengan cara memotong media agar dalam cawan petri pada bagian tengah secara membujur dan mikroba uji (maksimum 6 macam) digoreskan kearah parit yang berisi agen antimikroba tersebut.

4.        Cup-plate technique.
Metode ini serupa dengan disk diffusion, dimana dibuat sumur pada media agar yang telah ditanami dengan mikroorganisme dan pada sumur tersebut diberi agen antimikroba yang akan diuji. Pada metode ini, media agar yang sudah diinokulasikan dengan bakteri kemudian dibuat sebidang parit. Parit tersebut diisi dengan ekstrak dan diinkubasi pada waktu dan suhu optimum pertumbuhan bakteri. Setelah itu, dilakukan pengamatan dengan melihat ada atau tidaknya hambatan yang terbentuk.

2.4    Pengekstrakan

Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut dan masa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sehingga memenuhi baku yang telah ditetapkan (Soesilo, 1995). Ekstraksi adalah pemisahan bahan aktif dari jaringan tumbuhan ataupun hewan menggunakan pelarut yang sesuai melalui prosedur yang telah ditetapkan (Tiwari et al., 2011). Selama proses ekstraksi, pelarut akan berdifusi sampai ke material padat dari tumbuhan dan akan melarutkan senyawa dengan polaritas yang sesuai dengan pelarutnya. Efektifitas ekstraksi senyawa kimia dari tumbuhan bergantung pada bahan-bahan tumbuhan yang diperoleh, keaslian dari tumbuhan yang digunakan, proses ekstraksi, dan ukuran partikel (Tiwari et al., 2011).

Macam-macam perbedaan metode ekstraksi yang akan mempengaruhi kuantitas dan kandungan metabolit sekunder dari ekstrak, antara lain: tipe ekstraksi, waktu ekstraksi, suhu ekstraksi, konsentrasi pelarut, dan polaritas pelarut (Tiwari et al., 2011). Ada beberapa metode yang sering digunakan dalam ekstraksi diantaranya: maserasi, infusa, digesti, dekoksi, perkolasi, soxhlet, ekstraksi aqueous alkoholik yang difermentasi, ekstraksi counter-current, sonikasi (ekstraksi ultrasound), supercritical fluid extraction, dan lain sebagainya (Hastari, 2012).

Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur kamar (Ditjen POM, 2000). Keuntungan ekstraksi dengan cara maserasi adalah pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana, sedangkan kerugiannya yaitu cara pengerjaannya yang lama, membutuhkan pelarut yang banyak dan penyarian kurang sempurna. Dalam maserasi (untuk ekstrak cairan), serbuk halus atau kasar dari tumbuhan obat yang kontak dengan pelarut disimpan dalam wadah tertutup untuk periode tertentu dengan pengadukan yang sering, sampai zat tertentu dapat terlarut. Metode ini paling cocok digunakan untuk senyawa yang termolabil (Tiwari et al., 2011).
2.5    Tanaman Pisang Muli

Pisang merupakan salah satu buah yang banyak tumbuh di Indonesia. Sebagai salah satu negara produsen pisang dunia dan terbesar di Asia, disertai dengan manfaat pisang yang beragam membuat banyak masyarakat Indonesia mengolah dan memproduksi pisang (Suyanti dan Supriyadi, 2008). Tanaman pisang merupakan suatu tumbuhan yang dari akar hingga daunnya dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia. Pohon pisang selalu melakukan regenerasi sebelum berbuah dan mati, yaitu melalui tunas-tunas yang tumbuh pada bonggolnya. Pisang muli merupakan salah satu jenis pisang yang dapat dimakan langsung setelah matang (Suyanti dan Supriyadi, 2008).

Menurut Tjitrosoepomo (1985), klasifikasi pisang muli adalah sebagai berikut :
Kerajaan : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledone
Ordo : Musales
Famili : Musaceae
Genus : Musa
Spesies : Musa acuminata Linn

Gambar 2. Pisang Muli (Musa acuminata)
 Sumber: Firda (2015)

2.5.1    Kulit Pisang


Menurut Suyanti dan Supriyadi (2007 ), tanaman pisang memang banyak dimanfaatkan untuk berbagai keperluan hidup manusia dan dikenal sebagai tanaman yang multiguna karena selain buahnya, bagian yang lain pun dapat dimanfaatkan, mulai dari bonggol hingga daunnya. Selain untuk pakan ternak, kulit buah pisang juga dapat dijadikan sebagai bahan campuran crem anti nyamuk. Kulit buah pisang juga dapat diekstrak untuk dibuat pektin. Manfaat lainnya dapat dijadikan sebagai pembunuh larva serangga, yakni dengan sedikit menambahkan urea dan pemberian bakteri. Berdasarkan hasil temuan dari Taiwan, diketahui bahwa kulit pisang yang mengandung vitamin B6 dan serotonin dapat diekstraksi dan dimanfaatkan untuk kesehatan mata (menjaga retina mata dari kerusakan akibat cahaya yang lebih).

Dari pemanfaatan buah pisang dapat menyebabkan permasalahan limbah pisang, terutama kulitnya, dimana 40% dari total berat buah pisang merupakan kulitnya yang umumnya belum dapat dimanfaatkan secara optimal (Nagarajaiah dan Prakash, 2011). Kulit buah memiliki kandungan non-nutrisi, termasuk polifenol dan flavonoid (Lee et al., 2010). Polifenol merupakan sumber potensial antioksidan dan antimikroba terhadap sejumlah besar bakteri patogen, dan agen potensial untuk mencegah penyakit (Karou et al., 2005). Kulit pisang memiliki kadar senyawa fenolik yang jauh lebih tinggi daripada yang terkandung pada daging buahnya (Humairani, 2007). Kulit buah pisang yang berwarna kuning kaya akan senyawa flavonoid, serta mengandung senyawa fenolik lainnya (Lee et al., 2010).

Komposisi antioksidan dan anti-nutrien dari kulit pisang (per 100 g) antara lain adalah: karoten, β-karoten, vitamin C, tannin, oksalat, asam fitat, serat diet tidak larut, dan serat diet larut (Nagarajaiah dan Prakash, 2011). Pada kulit pisang juga terdapat selulosa, hemiselulosa, arinin, asam aspartat, treonin (Imam dan Akter, 2011). Kulit pisang yang dibuang sebagai limbah, ternyata kaya akan komponen bioaktif yang dianggap memiliki efek pada kesehatan yang menguntungkan (Chandra et al., 2010). Berdasarkan kriteria yang ditetapkan oleh National Cancer Institute, ekstrak kulit pisang tidak toksik terhadap sel manusia normal, sehingga dapat dengan aman digunakan (Lee et al., 2010).

2.5.2    Jantung Pisang

Bunga pisang disebut juga jantung pisang karena bentuknya menyerupai jantung. Bunga pisang tergolong berkelamin satu, yakni berumah satu dalam satu tandan. Daun penumpu bunga biasanya berjejal rapat dan tersusun secara spiral. Daun pelindung yang berwarna merah tua, berlilin, dan mudah rontok berukuran panjang 10-25 cm. Bunga tersebut tersusun dalam dua baris melintang, yakni bunga betina berada di bawah bunga jantan (jika ada). Lima daun bunga melekat sampai tinggi dengan panjang 6-7 cm. Benang dari yang berjumlah lima buah pada bunga terbentuk tidak sempurna. Pada bunga betina terdapat bakal buah yang berbentuk persegi, sedangkan pada bunga jantan tidak terdapat bakal buah (Suyanti & Supriyadi, 2008).

Jantung pisang merupakan bunga pisang berwarna merah keunguan yang biasanya banyak dimanfaatkan untuk membuat sayur. Selain dibuat sayur, bunga pisang dapat pula diolah menjadi manisan dan acar. Jantung pisang mengandung gizi cukup tinggi yaitu protein, vitamin, lemak, dan karbohidrat (Suyanti dan Supriyadi, 2008). Organ jantung pisang memiliki kandungan senyawa aktif (metabolit sekunder) yaitu alkaloid, saponin, tannin, flavonoid, dan total fenol (Mahmood et al., 2011).





















III.             BAHAN DAN METODE




3.1         Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi Hasil Pertanian, Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian, Laboratorium Analisis Hasil Pertanian, Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian, dan Laboratorium Organik Fakultas Matematika dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung, pada bulan Desember 2016 s.d. Maret 2017.

3.2         Bahan dan Alat

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kulit pisang dan jantung pisang muli, daging ayam, alkohol 70%, etanol 96%, akuades, alumunium foil, kapas, kertas wattman, H2SO4, BaCl2, NaCl fisiologis, kultur E.coli, Mac Conkey Agar (Oxoid), Nutrient Agar (Oxoid), Buffer Pepton Water (Oxoid), dan Nutrient Broth (Merck).
Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu timbangan analitik, loyang, oven, vacuum rotary evaporator, hotplate, shaker waterbath, laminar air flow, cawan petri (Normax), ose, tabung reaksi, rak tabung reaksi, vortex, bunsen, autoklaf, inkubator, mikropipet, pipet tetes, jangka sorong, Erlenmeyer (Pyrex), Beaker glass, gelas ukur, pinset, dan spatula.
3.3         Metode Penelitian

Penelitian dilakukan melalui dua tahap secara terpisah. Penelitian pertama mencari konsentrasi terbaik ekstrak antimikroba pada kulit pisang muli. Penelitian kedua mencari konsentrasi terbaik ekstrak antimikroba pada jantung pisang muli. Masing-masing percobaan menggunakan faktor tunggal dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) sebanyak enam kali ulangan. Data yang didapat dari hasil pengamatan dianalisis kesamaan ragam dengan Uji Bartlett untuk mengetahui kehomogenan data antar ulangan, dan kemenambahan data dianalisis dengan uji Tuckey. Setelah data tersebut homogen, kemudian data dianalisis dengan sidik ragam untuk mendapatkan ragam penduga galat dan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh antar perlakuan. Data dianalisis lebih lanjut menggunakan uji beda nyata terkecil (BNT) pada taraf 5%.

Pada penelitian pertama menggunakan ekstrak kulit pisang dengan lima taraf konsentrasi yaitu K1 (20%), K2 (40%), K3 (60%), K4 (80%), dan K5 (100%). Penelitian kedua menggunakan ekstrak jantung pisang terdiri dari lima taraf konsentrasi yaitu J1 (20%), J2 (40%), J3 (60%), J4 (80%), dan J5 (100%). Sediaan ekstrak 100% dibuat dari 10 ml ekstrak kental, konsentrasi 80 % (v/v) dibuat dari 8 ml ekstrak ditambah 2 ml aquades, konsentrasi 60 % (v/v) diperoleh dari 6 ml ekstrak ditambah 4 ml aquades, konsentrasi 40 % (v/v) diperoleh dari 4 ml ekstrak ditambah 6 ml aquades, konsentrasi 20 % (v/v) diperoleh dari 2 ml ekstrak ditambah 8 ml aquades, dan kontrol (negatif) digunakan aquades sebanyak 10 ml.

3.4         Pelaksanaan Penelitian

3.4.1   Preparasi Sampel

Sampel daging ayam diperoleh dari Pasar Koga Bandar Lampung dan diambil secara acak. Kultur bakteri Echerichia coli diperoleh dari koleksi Laboratorium Mikrobiologi Hasil Pertanian, Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas pertanian, Universitas Lampung. Sementara sampel kulit buah dan jantung pisang muli diperoleh dari Kecamatan Semaka, Kabupaten Tanggamus, Lampung. Sampel kulit buah pisang muli dipilih yang sudah matang sempurna atau sudah menguning kulitnya. Sampel kulit pisang dan jantung pisang masing-masing sebanyak ±7 kg dicuci bersih (terlihat secara fisik), kemudian dikeringkan dengan diangin-anginkan sampai tiris airnya. Setelah itu dipotong kecil-kecil dengan ketebalan ± 0,5 cm x 0,5 cm kemudian ditimbang beratnya. Berat awal masing-masing sampel yang sudah di potong adalah ±6 kg. Sampel dikeringkan di bawah sinar matahari secara tidak langsung selama 24 jam. Kemudian dilanjutkan pengeringan dengan oven blower pada suhu 50°C sampai kadar airnya stabil (kurang dari 10%) selama 48 jam. Setelah itu simplisia digiling menggunakan blender hingga terbentuk serbuk. Serbuk hasil pengeringan sudah siap untuk dimaserasi.

3.4.2   Pembuatan Ekstrak

Ekstraksi kulit pisang dan jantung pisang muli dilakukan secara maserasi, yaitu serbuk kulit dan jantung pisang muli direndam dengan pelarut etanol 96% sebanyak 2 liter di dalam botol maserasi yang tertutup rapat dan dibiarkan selama 24 jam pada temperatur kamar, terlindung dari sinar matahari langsung sambil sesekali diaduk, kemudian disaring sehingga diperoleh filtrat dan ditampung dalam wadah penampungan (botol maserasi). Filtrat yang diperoleh dipekatkan dengan rotary evaporator pada suhu 50 °C hingga diperoleh ekstrak kental kulit pisang dan jantung pisang muli. Ekstrak kulit pisang dan jantung pisang muli yang diperoleh masing-masing diukur derajat keasamaan (pH) menggunakan alat pH meter, serta uji organoleptik meliputi warna, aroma, dan kekentalan. Diagram alir ekstraksi kulit pisang disajikan pada Gambar 3 dan ekstraksi jantung pisang disajikan pada Gambar 4.






























Kulit pisang muli
Dicuci
Air
Air + kotoran
Dipotong kecil-kecil (0,5x0,5cm)
 




Dikeringkan di bawah sinar matahari secara tidak langsung (t=24 jam)
Dimaserasi, t = 24 jam.

Etanol 96 %
(2 L)
Maserat
Diuapkan dengan rotary evaporator (50°C)
Etanol
Dikeringkan dalam oven (T=50°C, t=2 hari)
Serbuk
Ditimbang 500 g
Digiling dengan blender
 















Ekstrak kental kulit pisang muli
                                                                               


                                                                                                                     
Gambar 3. Diagram alir ekstraksi kulit pisang, dimodifikasi dari Ningsih et al.,
 (2013)






Jantung pisang muli
Dicuci
Air
Air + kotoran
Dipotong kecil-kecil (0,5x0,5cm)
Dikeringkan di bawah sinar matahari secara tidak langsung (t=24 jam)
Dimaserasi, t = 24 jam.

Etanol 96 %
(2 L)
Maserat
Diuapkan dengan rotary evaporator (50°C)
Etanol
Dikeringkan dalam oven (T=50°C, t=2 hari)
Serbuk
Ditimbang 500 g
Digiling dengan blender
 




















Ekstrak kental jantung pisang muli
                                                                               


                                                                                                                     
Gambar 4. Diagram alir ekstraksi jantung pisang, dimodifikasi dari Ningsih et al.,
                   (2013)





3.4.3        Pembuatan Suspensi Bakteri Uji

1.        Peremajaan bakteri uji
Peremajaan bakteri E.coli dilakukan dalam tiga tahap, yaitu peremajaan menggunakan media Nutrient Broth, media Mac Conkey Agar, dan media Nutrient Agar miring. Pertama, bakteri Echerichia coli murni sebanyak 2 ose ditumbuhkan pada media Nutrient Broth (NB) kemudian diinkubasi selama 24 jam dalam inkubator pada suhu 37°C. Peremajaan kedua dilakukan dengan cara mengambil sebanyak 1 ml bakteri uji dari biakan NB dan ditanam pada media Mac Conkey Agar (MCA) dengan metode pour plate dan diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37°C. Selanjutnya diambil sebanyak 2 ose dari biakan MCA dan digores pada medium Nutrient Agar (NA) permukaan agar miring kemudian diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37°C.

2.        Pembuatan standar turbiditas 0,5 Mc Farland (Sutton, 2011)
Sebanyak 9,95 ml H2SO4 1% dimasukkan kedalam tabung reaksi dan ditambah 0,05 ml BaCl2 1% kemudian dihomognekan dengan vortex. Apabila kekeruhan suspensi bakteri uji adalah sama dengan kekeruhan suspensi standart, berarti konsentrasi suspens bakteri adalah 1,5 x 108 CFU/ml.

3.        Pembuatan suspense bakteri
Koloni bakteri E.coli yang sudah diremajakan pada biakan NA umur 24 jam diambil sebanyak 2 ose kemudian disuspensikan dalam 2 ml NaCl fisiologis 0,9% dalam tabung reaksi steril dan dihomogenkan dengan vortex selama 15 detik. Kekeruhan yang diperoleh kemudian dibandingkan secara visual dengan standar 0,5 Mc Farland. Kekeruhan dilihat dan dibandingkan dengan latar belakang kertas hitam putih bergaris. Jika suspensi bakteri uji terlalu keruh, maka dilakukan penambahan larutan NaCl fisiologis 0,9%. Jika suspensi bakteri uji kurang keruh, maka ditambahkan beberapa ose bakteri yang sudah diremajakan. Suspensi bakteri uji yang kekeruhannya sudah sama dengan standar 0,5 Mc Farland kemudian digunakan untuk uji aktivitas antimikroba.

3.4.4   Uji  Aktivitas Antimikroba

1.        Pembuatan konsentrasi ekstrak
Konsentrasi ekstrak yang digunakan yaitu 100%, 80%, 60%, 40%, dan 20%. Sediaan ekstrak 100% dibuat dari 10 ml ekstrak kental, konsentrasi 80 % (v/v) dibuat dari 8 ml ekstrak ditambah 2 ml aquades, konsentrasi 60 % (v/v) diperoleh dari 6 ml ekstrak ditambah 4 ml aquades, konsentrasi 40 % (v/v) diperoleh dari 4 ml ekstrak ditambah 6 ml aquades, konsentrasi 20 % (v/v) diperoleh dari 2 ml ekstrak ditambah 8 ml aquades, dan kontrol (negatif) digunakan aquades sebanyak 10 ml.

2.        Proses uji antimikroba
Uji aktivitas antimikroba dilakukan dengan metode Difusi Kertas Cakram dan hasil uji antibakteri didasarkan pada pengukuran Diameter Daerah Hambat (DDH) pertumbuhan bakteri yang terbentuk di sekeliling kertas cakram. Untuk mengetahui pengaruh pelarut etanol dalam hambatan bakteri E.coli dilakukan uji daya hambat etanol, dan untuk mengetahui pengaruh ekstrak kulit dan jantung pisang muli dalam hambatan bakteri E.coli dilakukan uji daya hambat ekstrak.

a.         Uji daya hambat etanol
Suspensi bakteri uji diambil sebanyak 100 μL dituang secara merata pada medium Nutrient Agar (NA) menggunakan metode spread plate. Ditunggu beberapa saat sampai mengering, lalu diletakkan kertas cakram yang telah dijenuhkan dengan etanol 96%. Kemudian diinkubasi pada suhu 37C selama 24 jam dan diamati daya hambatnya.

b.        Uji daya hambat ekstrak
Pada masing-masing ekstrak dengan konsentrasi yang berbeda, diambil sebanyak 1 tetes dan diteteskan pada kertas cakram steril, lalu ditunggu sampai menjadi jenuh. Suspensi bakteri uji diambil sebanyak 100 μL, dituang secara merata pada medium Nutrient Agar (NA) menggunakan metode spread plate. Ditunggu beberapa saat sampai mengering, lalu diletakkan kertas cakram yang telah dijenuhkan dengan masing-masing ekstrak dengan konsentrasi yang telah ditentukan (100%, 80%, 60%, 405, dan 20%, serta kontrol negatif). Media yang sudah berisi bakteri uji, kontrol negatif, dan cakram yang telah dijenuhkan dengan esktrak kemudian diinkubasi pada suhu 37C selama 24 jam. Diameter Daerah Hambat (DDH) yang terbentuk di sekitar cakram setelah 24 jam diamati dengan menggunakan jangka sorong. Uji dilakukan sebanyak enam kali pengulangan. Diagram alir uji aktivitas antimikroba disajikan pada Gambar 5, diagram alir uji penurunan total E.coli pada daging ayam disajikan pada Gambar 6, dan diagram alir uji total E.coli pada daging ayam disajikan pada Gambar 7.



Kultur bakteri E.coli (100µl)

Diletakkan kertas cakram (5,5 mm) berisi ekstrak kulit pisang (20%, 40%, 60%, 80%, 100%) dan  kontrol negatif (aquades) pada permukaan media NA
Dituang dalam media Nutrient Agar (NA) dengan metode spred plate
Diletakkan kertas cakram (5,5 mm) berisi ekstrak jantung pisang (20%, 40%, 60%, 80%, 100%) dan kontrol negatif (aquades) pada permukaan media NA
Didiamkan sampai mengering (t=1 jam)
 














           
Inkubasi (T=37°C, t=24 jam)

 


Daerah hambatan (mm)
                                          
                                                 
Gambar 5. Uji aktivitas antimikroba, dimodifikasi dari Ningsih et al., (2013)





















3.4.5   Uji Penurunan Total E.coli pada Daging Ayam

1 potong daging ayam diukur total E.coli, berdasarkan Lay (1994)
2 potong daging ayam (masing-masing 5 g)
Dimasukkan dalam 2 buah erlenmeyer
E.coli 1 ml
 







Shaker pertama
(t= 30 menit, T=37°C)
                                         
Shaker ke-dua
(t= 90 menit, T=37°C)

Ekstrak 5 ml
1 potong daging ayam diukur total E.coli, berdasarkan Lay (1994)

 








Total penurunan E.coli

                 



Gambar 6.  Uji penurunan total  E.coli pada daging ayam, dimodifikasi dari
                   Fardiaz (1989)










Daging ayam (5 g)
Dimasukkan dalam Erlenmeyer berisi BPW (45 ml)

Dihomogenkan 
Dilakukan pengenceran hingga 10-8
 






                                                  
Diambil sampel setelah pengenceran (1 ml)
 


Dituang ke cawan petri steril
 

                                                           
Dituangkan media Mac Conkey Agar
Diinkubasi (T=37°C, t= 24 jam)
 





Total Koloni
    


Gambar 7. Uji total E.coli pada daging ayam (Lay, 1994 dalam Marliena, 2016)










                                                                                      










IV.             HASIL DAN PEMBAHASAN


(PRIVATE)









DAFTAR PUSTAKA




Abubakar. 2003. Mutu Karkas Ayam Hasil Pemotongan Tradisional dan
Penerapan Sistem Hazard Analysis Critical Control Point. Jurnal Litbang Pertanian. 22: 33- 39.

Babu, M. A., M. A. Suriyakala., K. M. Gothandam. 2012.Varietal Impact on
Phytochemical Contents and Antioxidant Properties of Musa acuminate
(Banana). J. Pharm. Sci. & Res. 4(10): 1950 - 1955.

BSN (Badan Standardisasi Nasional) (2009). SNI 01-3924-2009 Tentang Mutu
Karkas dan Daging Ayam. Badan Standardisasi Nasional. Jakarta.

BSN (Badan Standardisasi Nasional) (2009). SNI 01-7388-2009 Tentang Mutu
Daging Ayam. Badan Standardisasi Nasional. Jakarta.

Buckle, K.A., Edwards, R.A., Fleet, G.H., and Wootton, M. 2007. Ilmu Pangan,
Penerjemah: Hari Purnomo dan Adiono. Universitas Indonesia. Jakarta

Chandra, S., Baravalia, Y., Kaneria, M., and Rakholiya, K. 2010. Fruit and
Vegetable Peels- Srong Natural Source of Antimicrobics. Current Research. Department of Biosciences, Saurashtra University, Gujarat, India. P 444 – 450.

Cox NA et al. 2005. Bacterial Contamination of Poultry as a Risk to Human
Health. Di dalam: Mead GC, editor. Food Safety Control in the Poultry
            Industry. Boca Raton: CRC Pr. hlm 21-43.

Davis, W.W. dan T.R. Stout. 1971. Disc Plate Methods of Microbiological
Antibiotic Assay. J. Applied Microbiology. 22(4): 666-670.

Departemen Kesehatan, RI. 1996. Pedoman Praktis Pemantauan Gizi Orang
Dewasa. Depkes. Jakarta.

Departemen Kesehatan, RI. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan
Obat, Cetakan Pertama. Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan. Jakarta. Hal: 10-12.


Dewantoro, G.I., 2011. Tingkat Prevalensi Echerichia coli Dalam Daging Ayam
Beku yang Dilalulintaskan Melalui Pelabuhan Penyeberangan Merak. (Skripsi). Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Djaafar T.F, Rahayu S. 2007. Cemaran Mikroba pada Produk Pertanian, Penyakit
yang Ditimbulkan dan Pencegahannya. Jurnal Litbang Pertanian. 26: 67-
75.
     
Ditjen POM, Depkes RI. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan
Obat. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.  Jakarta.

Fardiaz, S. 1989. Analisa Mikrobiologi Pangan. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Firda. 2015. Manfaat dan Khasiat Jantung Pisang Untuk Kesehatan.

Ganiswara, S.G., 1995. Farmakologi dan Terapi, Edisi 4. Gaya Baru. Jakarta. 862
hlm.

Gunawan, Didik dan Mulyani, Sri. 2004. Ilmu Obat Alam (Farmakognosi) Jilid I.  Penebar Swadaya. Jakarta. 115 hlm.

Hanief, S. 2011. Efektivitas Esktrak Jahe (Zingiber officonale Roscoe) Terhadap
Pertumbuhan Bakteri Streptococcus viridians. (Skripsi). Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Jakarta. 61 hal.

Hastari, R. 2012. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Pelepah dan Batang Tanaman
Pisang Ambon  (Musa paradisiaca var.sapientum) terhadap Staphylococcus aureus. (Karya Tulis Ilmiah). Universitas Diponegoro. Bandung. 57 hlm.

Humairani, R. 2007. Antioksidan Kulit Pisang (Musa paradisiaca) pada minyak
ikan terhadap stabilitas oksidasi dengan katalis panas dan cahaya. (Skripsi). Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Imam, MZ, Akter S, Mazumder EH, Rana S. 2011. Antioxidant activities of different
parts of Musa sapientum L. ssp. sylvestris fruit. J. of Applied
Pharmaceutical Science. 01(10): 68-72.

Ismail, A, F, H., Samah, O, A., & Sule, A. 2011. A Preliminary Study on
Antimicrobial Activity Of Imperata cylindrica, Borneo. J. Resour. Sci. Tech, 1:63-66.

Jawetz, E. et al. 1995. Review of Medical Microbiology. Los Altos, California:
Lange Medical Publication. pp 227-230.


Jawetz, E. J. I., Melnick dan Adelberg, E.A. 1996. Mikrobiologi Kedokteran Edisi
20 diterjemahkan oleh Nugroho, E., dan Maulany. EGC. Jakarta. pp. 234- 240.

Jay J.M, Loessner M.J, Golden D.A. 2005. Modern Food Microbiology Ed 9th.
Springer Science and Business Media, LLC. USA.

Karadi, R.V., Shah, A., Parekh., dan Azmi, P. 2001. Antimicrobial Activities of
Grapeseed Extracts: A New Approach In High Cardiovascular Risk Patients?. Int J Clin Pract. 60(11): 1484-1492.

Karou, d., Dicko,M.H., Simpore, J., and Traore, A.S. 2005. Antioxidant and
antibacterial activities of polyphneols from ethnomedicinal plants of Burkina Faso. Afr. J. Biotechnol . 4(8): 823-828.

Karsinah, Lucky, Soehanto, dan H.W. Mardiastuti. 1994. Kokus Positif Gram dan
Batang Negatif Gram dalam Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran, Edisi Revisi. Bina Aksara. Jakarta. p 163-165.

Katno, Haryanti S., dan Triyono A., 2009. Uji Daya Hambat Ekstrak Etanol Daun
Sembung (Blumea balsamifera (L.) DC.) Terhadap Pertumbuhan Mikroba E.coli, S.aureus dan C.albicans. Jurnal Tumbuhan Obat Indonesia. 2(1): 33-36.

Lay,W.B. 1994. Analisa Mikroba di Laboratorium, Edisi I. PT Raja Grafindo
Persada. Jakarta.

Lee, E.H., Yeom, H.J., Ha M.S., and Bae, D.H. 2010. Development of Banana
Pell Jelly and its Antioxidant and textural properties. Food Sci. Biotechnol 19 (2): 449- 455.

Lukman DW., 2009. Higiene Pangan, Bagian Kesehatan Masyarakat Veteriner.
Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesmavet, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Lukman, D.W., 2010. Pembusukan Daging, Bagian Kesehatan Masyarakat
            Veteriner. Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesmavet, Fakultas
            Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Mahmood, A., N. Ngah dan M. N. Omar. 2011. Phytochemicals Constituent and
Antioxidant Activities in Musa X Paradisiaca Flower. European Journal of Scientific Research. 66 (22): 311-318.

Maloha, M, 2002. Pemeriksaan Angka Kuman Escherichia coli Dengan Usap Alat
Pada Restoran, Rumah Makan, dan Lokalisasi Makanan Jajanan Di Kota Jambi Tahun 2001. (Skripsi). Universitas Sumatera Utara. Medan.


Mardaningsih, Ana dan Resmi Aini. 2014. Pengembangan Potensi Ekstrak Daun
Pandan (Pandanus amaryllifolius Roxb) Sebagai Agen Antibakteri.
J. of Pharmaciana. 4 (2): 184-192.

Marliena, Lia. 2016. Uji Bakteriologis dan Organoleptik Daging Ayam (Gallus
domesticus) di Pasar Tradisional dan Pasar Modern Kota Bandar Lampung. (Skripsi). Universitas Lampung. Lampung. 67 hlm.

Matasyoh, Lex G., 2014. Antimicrobial Assay and Phyto-cemical Analysis of        Solanum nigrum Complex Growing in Kenya. African Journal of
Microbiology Research. 8(50).

Mead, GC. 2003. Microbial Hazards in Production and Processing. Di dalam:
Mead GC, editor. Poultry Meat Processing and Quality. Boca Raton: CRC
            Pr. hlm 232-257.

Melliawati, R. 2009. Escherichia coli dalam Kehidupan Manusia. J. Bio Trends.
4(1): 10-14.

Muani, A. 2013. Morfologi Koloni Bakteri. https://anitamuina.wordpress.com/
2013/02/13/morfologi-koloni-bakteri/. Diakses pada 24 Februari 2017.

Murtidjo, B.A. 2003. Pedoman Beternak Ayam Broiler. Kasinius. Jakarta.

Nagarajaiah, S. B. dan Prakash, J. 2011. Chemical composition and antioxidant
potential of peels from three varieties of banana. As. J. of Food and
Agroindustry. 4(01): 31-46.

Ningsih, A.P., Nurmiati., Agustien A. 2013. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak
Kental Tanaman Pisang Kepok Kuning (Musa Paradisiaca Linn.) terhadap Staphylococcus aureus dan Echerichia coli. Jurnal Biologi Universtas Andalas. 2(3): 207-213.

Nur, J., Dwyana A., dan  Abdullah A. 2013. Biokativitas Getah Pelepah Pisang
Ambon  Musa paradisiacavar sapientum Terhadap Pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeuroginosa, dan Escherichia coli. (Skripsi). Universitas Hasanuddin. Makassar.

Nuria, M.C., 2010. Antibacterial Activities From Jangkang (Homalocladium
platycladum (F.Muell) Bailey) Leaves. Jurnal Ilmu Pertanian. 6(2): 9-15.

Nuryati, L., Noviati, Rudi Waryanto, dan Roch Widianingsih. 2015. Outlook
Komoditas Pertanian Sub Sektor Peternakan (Daging Ayam). Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal  Kementerian Pertanian. Jakarta.



Okoli, R.I., A. A. Turay., J.K Mensah and A. O. Aigbe. 2009. Phytochemical and
Antimicrobial Properties of Four Herbs From Edo State, Nigeria. Report
and Opinion. 1 (5) : 67-73. ISSN: 1553-9873.

Okorondu,S.I., Mepba, H.D., Okorondu, M.M.O., and Aririatu, L.E. 2010.
Antibacterial properties of Musa paradisiacal peel extract. J. of Current Trends in Microbiology 6: 21 – 26.

Pelczar, M.J. & E.C.S. Chan. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi 1. Penerjemah:
Ratna Siri Hadioetomo dkk. Universitas Indonesia Press. Jakarta. 115 hlm

Pelczar, M. J. dan E. C. S. Chan. 1988. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jilid 1.
Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Pelczar M.J, dan E.C.S. Chan. 2007. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Penerjemah
Hadioetomo RS, Imas T, Tjitrosomo SS, Angka SL, Terjemahan dari: Elements of Microbiology. UI-Press. Jakarta.

Pendit, PAC., E.Zubaidah, F.H. Sriherfyna. 2016. Karakteristik Fisik-Kimia dan
Aktivitas Antibakteri Esktrak Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.). Jurnal Pangan dan Agroindustri. 4(1): 400-409

Poeloengan, Masniari, Andriani, Susan N.M., 2007. Uji Daya Antibakteri   Ekstrak
Etanol Kulit Batang Bungur (Langerstoremia speciosa Pers.) Terhadap
Staphylococcus aureus dan Eschericia coli Secara In Vitro. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteruner 2007. 776-782

Pradana, Dedi., D. Suryanto, Y. Djayus., 2013. Uji Daya Hambat Ekstrak Kulit
Batang  Rhizophora mucronata Terhadap Pertumbuhan Bakteri
Aeromonas hydrophila, Streptococcus agalactiae Dan Jamur Saprolegnia sp. J. of Aquacoastmarine. 2(1): 78-92

Prasetyo, B.F., Wientarsih, I., Prioseryanto, B.P., 2008. Aktivitas Sediaan Gel
Ekstrat Batang Pohon Pisang Ambon dalam Proses Penyembuhan Luka Pada Mencit. Jurnal Veteriner. 11(2): 70-73

Prasetyo dan Inoriah, E., 2013. Pengolahan Budidaya Tanaman dan Obat-Obatan
(Bahan Simplisia). Badan Penerbitan Fakuktas Pertanian. Universitas Bengkulu. Bengkulu. pp 16-19.

Pratiwi S.T. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Penerbit Erlangga. Jakarta.

Priosoeryanto, B. P., H. Huminto., I. Wientarsih dan S. Estuningsih. 2006.
Aktifitas Getah Batang Pohon Pisang dalam Proses Persembuhan Luka dan Efek Kosmetiknya Pada Hewan. http://repository.ipb.ac.id. Diakses pada 23 November 2016.


Rahardjo A.H.D., Santoso B.S., 2005. Kajian terhadap Kualitas Karkas Broiler
Yang Disimpan pada Suhu Kamar Setelah Perlakuan Pengukusan. Jurnal Administrasi Publik. 7:1-5.

Rashaf, M. 2000. Beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya. Jakarta.

Rosana, I.R., 2015. Aktivitas Antibakteri Jamu “Empot Super” Terhadap Bakteri
Stphylococcus aureus dan Echerichia coli. (Skripsi). UIN Maulana Malik
Ibrahim. Malang. 110 hlm.

Saraswati, F.N., 2015. Uji AKtivitas Antibakteri Ekstrak Etanol 96% Limbah
Kulit Pisang Kepok (Musa Balbisiana) terhadap Bakteri Penyebab Jerawat (Staphylococcus epidermidis, Staphylococcus aureus, dan Propionibacterium acne). (Skripsi). UIN Syarif Hidayatullah. Jakarta. 67 hlm.

Sasmita, Y., I.G. Suarjana., dan M.D. Rudyanto. 2014. Cemaran Escherichia Coli
pada Daging Broiler yang Disimpan di Showcase di Swalayan di Denpasar. J.of Indonesia Medicus Veterinus  3(1): 68-72

Snyder, C. R., J. J. Kirkland, and J. L. Glajach. 1997. Practical HPLC Method
Development, Second Edition. John Wiley and Sons, Lnc. New York. Pp.
722-723.

Soeparno. 1994. Ilmu dan Teknologi Daging. Gajah Mada University Press.
Yogyakarta.

Soesilo, Slamet, Drs. 1995. Farmakope Indonesia, Edisi IV. Departemen
Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta.

Songer, J.G., and Post, K W. 2005. Microbiology Bacterial and Fungal Agent of
Animal Disease. Elsevier Saunders. Philadelphia.

Sumathy, V., S. J. Lachumy., Z. Zakaria and S. Sasidharan. 2011. In Vitro
Bioactivity and Phytochemical Screening of Musa acuminata Flower. J. of Pharmacology online. 2: 118-127.

Suprijatna, E., Umiyati, dan Ruhyut. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar
Swadaya. Jakarta.

Susanto, Edi. 2014. Standar Penanganan Pasca Panen Daging Segar. Jurnal
Ternak. 5(1): 15-20.

Sutton, S. 2011. Measurement of Microbial Cells by Optical Density. J. of
Validation Technology. XVII (I): 46-49.

Suyanti, dan Ahmad Supriyadi. 2008. Pisang Budidaya, Pengolahan dan Prospek
            Pasar. Penebar Swadaya. Jakarta. 124 hlm.
Tjitrosoepomo, Gembong. 1985. Morfologi Tumbuhan. Universitas Gadjah Mada.
Yogyakarta.

Tiwari, P. Kumar, B. Kaur, M. Kaur, G. Kaur, H. 2011. Phytochemical screening
and Extraction: A Review. J. of Internationale Pharmaceutica Sciencia. 1(1): 98-106

Usmiati S. 2010. Pengawetan daging segar dan olahan. Balai Besar Penelitian dan
Pengembangan Pascapanen Pertanian, Bogor. Jurnal Teknologi Sains.
9(3):46-51.

Windiyartono, A., Rr Rianti dan Veronica Wannietie. 2016. Efektivitas Tepung
Bunga Kecombrang (Nicolaia Speciosa Horan) sebagai Pengawet terhadap Aspek Kimia Daging Ayam Broiler. Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu. 4(1): 19-23

Winn Jr, Washington C. 2006. Koneman’s Color Atlas and Textbook of
Diagnostic Microbiology, 6th ed. Lippincott Williams & Wilkins. USA. p 251-259.